Senin, 19 Oktober 2015

Refleksi Ketiga Kuliah Filsafat Ilmu

PERTANYAAN-PERTANYAAN FILSAFAT

Berikut ini merupakan refleksi ketiga kuliah filsafat yang diselenggarakan pada hari Rabu tanggal 7 Oktober 2015. Saat itu, setelah memberikan tes jawab singkat Prof. Marsigit memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajukan minimal satu pertanyaan. Berikut ini beberapa pertanyaan dari mahasiswa. 

Pertanyaan pertama adalah pertanyaan dari Saudari Evie yaitu  
"Bagaimana sikap pendidikan yang mengajarkan perbedaan?"
Pembahasan:
Dalam berfilsafat terdapat hierarki, yang terdiri dari material, formal, normatif, yang dilingkupi oleh spiritualisme, seperti yang digambarkan pada gambar berikut.













Dari atas ke bawah berarti dari tunggal ke plural, sementara dari bawah ke atas berarti dari plural ke tunggal.
Tunggal disini berarti Tuhan Yang Maha Esa. Dunia terangkum dalam kekuasaanNya. Untuk setiap pertanyaan sebenarnya dapat dijawab dengan "itu kuasa Tuhan", hanya saja jawaban tersebut belum mampu menjelaskan jawaban sebenarnya dari pertanyaan. Hidup di dunia bersifat plural, jangankan orang lain, diri manusia sendiri saja bersifat plural, akan tetapi dari sekian banyak yang plural ada yang berkomitmen untuk menjadi tunggal. Contohnya yaitu Bangsa Indonesia. Bangsa Indoensia terdiri dari banyak suku bangsa. Kendati demikian, suku-suku tersebut melebur menjadi satu yaitu bangsa Indonesia. Oleh karena itu dikenal istilah Bhineka tunggal ika yang artinya walau beraneka ragam tetapi tetap satu jua. 
Secara filsafat, tidak mungkin mengharap orang lain untuk persis seperti kita. Sebagai guru kita tidak dapat mengharap siswa untuk berpikir seperti kita dan membatasi kreativitasnya. Mereka punya cara pikir mereka sendiri-sendiri. Hal yang dapat kita lakukan untuk menghadapinya yaitu dengan cara mensyukuri berbagai macam perbedaan tersebut. Sebisa mungkin guru berusaha untuk memfasilitasi siswa-siswa yang beraneka ragam tersebut dengan alat-alat yang juga beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan dari saya sendiri (Erni) yaitu  
"Adakah kebenaran absolut dalam filsafat?"
Pembahasan:

Filsafat merupakan ilmu untuk mencari kebenaran. Kebenaran absolut berarti kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Kebenaran ini diturunkan oleh firman Tuhan. Ada kebenaran absolut yang dibuat oleh manusia, hanya saja kebenaran tersebut tidak dapat mengalahkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Kebenaran absolut yg dibuat manusia hanya bersifat konsisten saja, yaitu sesuai dengan kesepakatan. Jika tidak sesuai kesepakatan berarti salah. Kebenaran yang seperti itu tentunya hanya ada di pikiran manusia saja, tidak ada di kehidupan nyata. 

Terkadang saya berpikir, bagaimana dengan manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan? Apakah kebenaran absolut bagi mereka? Bagaimana jalan bagi mereka kembali jika mereka tersesat? Bagi saya sendiri, Tuhan adalah sumber dari segala kebenaran. Jika saya merasa hilang arah, Tuhanlah tempat saya untuk kembali. Untuk orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, Prof. Marsigit menjawabnya pada pertanyaan selanjutnya dari Saudari Tyas, yaitu bahwa manusia yang tidak mengenal Tuhan kehiduapannya bersifat linear. Tujuannya jauh ke tak terhingga, sehingga tidak jelaslah arah tujuannya.


 Pertanyaan ketiga yaitu pertanyaan dari Saudari Diana.  
"Bagaimana hubungan filsafat dengan filsafat islam?" 
Pembahasan:
Pertemuan dunia Barat dengan dunia Islam berbagai cara salah satunya yaitu dengan peperangan. Ketika terjadi perang masyarakat banyak yang mengungsi dan banyak juga yang menanamkan sifat dan budayanya, meletakkan landasan peradaban dalam waktu yang lama dengan cara berinteraksi dengan warga lokal. Yunani Kuno merupakan negara dengan kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa pada zamannya. Banyak filsuf dan ahli-ahli yang melahirkan banyak dokumen dan karya-karya tentang pemikiran-pemikiran mereka seperti Aristoteles dan Plato. Karena adanya serangan dari negara Islam, yaitu melalui Turki, sebagian karya-karya tersebut di bawa ke dunia Islam. Di satu sisi, dunia Barat mengalami fase dunia gelap yaitu pada abad pertengahan dimana kedupan didominasi oleh pengaruh gereja. Semua hal ditetapkan oleh gereja.  Seseorang tidak dapat mengklaim kebenaran dan dokumen-dokumen Yunani Kuno dibakar habis. Ketika terjadi perang lagi dan akhirnya dunia Barat dapat menguasai dunia Timur, ditemukanlah dokumen-dokumen Yunani Kuno yang di negara barat sendiri telah habis dibakar. Dalam hal ini dunia islam menyelamatkan dokumen-dokumen Yunani Kuno tersebut, sehingga karya-karya tersebut dapat dipergunakan dalam berbagai ilmu dewasa ini. Inilah pentingnya bergaul atau berinteraksi, bagaimanapun caranya, baik dengan jalan damai maupun jalan perang. Adapun filsafat barat dan timur sendiri memiliki perbedaan. Seperti halnya adat ketimuran, filsafat timur punya perasaan tahu diri dan sopan santun terhadap ruang dan waktu. Mereka melandaskan ilmu pengetahuan dengan spiritual.


Pertanyaan keempat yaitu pertanyaan dari Saudari Tyas.  

"Dalam hidup, kita harus berikhtiar, apakah kita tidak boleh mengeluh atau punya rasa iri?"
Pembahasan:

Hidup merupakan interaksi dari bermilyar-milyar sumbu yang berpasang-pasangan, misalkan saja baik dengan buruk, sehat dengan sakit, laki-laki dengan perempuan, berdoa dengan berikhtiar, dan lain sebagainya. Manusia dapat dikatakan sukses dalam hidupnya jika dia dapat menginteraksikan baik dan buruk dalam bentuk bagaimana kita memperoleh kebaikan dan mengurangi keburukan. Manusia tidak akan tahu hal yang baik jika tidak pernah berhadapan dengan hal yang buruk. Buruk tidak dihindari tetapi dapat dikelola. Manusia harus dapat menyeimbangkan setiap pasangan-pasangan hal dalam hidupnya agar kehidupannya selaras. 
Dalam hidup kita diwajibkan untuk berdoa sekaligus berusaha. Hanya berdoa saja tanpa ada usaha tentunya kurang baik. JIka hanya berikhtiar saja tanpa berdoa, maka manusia akan kehilangan arah. Berdoa merupakan fenomena siklik. Artinya ujungnya melingkar sehingga manusia tahu darimana asalnya dan mau kemana tujuannya. Tidak berdoa merupakan fenomena linear. Manusia akan kehilangan identitas dan jati  dirinya, berperilaku aneh, melawan hukum alam, tidak percaya tuhan, dan tidak tahu arah tujuannya. Untuk itu, setiap hal dalam hidup kita harus kita selaraskan dan kita seimbangkan. 


REFLEKSI KEDUA KULIAH FILSAFAT ILMU

WADAH DAN ISI
 
Hari Rabu, tanggal 16 September 2015 merupakan pertemuan kedua untuk kuliah Filsafat ilmu. Dalam kesempatan itu Prof. Marsigit membahas mengenai wadah dan isi dalam filsafat. Kuliah diawali dengan cerita pengalaman-pengalaman beliau dalam berkendara. Dalam berkendara, bisa dikatakan bahwa alat transportasi yang kita gunakan merupakan wadahnya, sementara konten psikologis dari pengendara tersebut merupakan isinya. Dengan kendaraan yang berbeda, maka akan berbeda pula konten psikologis yang dirasakan oleh pengendara. Misal, ketika kita mengendarai motor bebek, konten psikologi yang kita rasakan akan berbeda dengan ketika kita mengendarai motor gedhe. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa wadah mempengaruhi isi. Sebaliknya isi juga mempengaruhi wadah.

Dalam berkendara di jalanan, kita akan lebih nyaman jika kita dapat menyelaraskan diri dengan kondisi jalan raya. Jika teman-teman di jalan berkendara dengan kecepatan tinggi, alangkah baiknya jika kita juga dapat menyesuaikan, dengan catatan bahwa kendaraan kita dapat dipergunakan untuk melaju cepat dan kita memiliki kemampuan untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Dari pengandaian ini, dapat saya simpulkan bahwa kehidupan kita akan menjadi menyenangkan jika kita dapat menyelaraskan pola hidup kita dengan lingkungan sekitar. Rasanya tidak menyenangkan jika teman-teman kita memiliki kemauan keras untuk belajar sedangkan kita hanya bermalas-malasan. Kita sebagai isi, harus menyesuaikan dengan wadah. Semua hal yang ada di dunia ini merupakan interaksi wadah dengan isi. Isi perlu wadah, wadah perlu isi, wadah perlu wadah, dan isi perlu isi.

Selain menjelaskan tentang wadah dan isi, Prof. Marsigit menjelaskan tentang hakikat manusia di dunia ini. Manusia yang sebenarnya, merupakan hal yang sulit dijelaskan. Betapapun kerasnya kita menjelaskan dan menyebutkan apa itu manusia, maka yang dapat kita sebutkan hanyalah sebagian kecil dari sifat-sifatnya saja. Untuk itu, sebenar-benar hidup adalah berusaha untuk mengerti walau kita sadar bahwa kita tidak akan memahami manusia secara sempurna. Yang sempurna di dunia ini hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, Alloh SWT. Tetapi kita harus tahu bahwa karena ketidaksempurnaan tersebut manusia hidup. Hidup manusia adalah ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan Tuhan.

Dalam hidup ini berlaku hukum sebab-akibat. Prof. Marsigit mencontohkan dengan proses pecahnya suatu kaca. Suatu kaca dilempar batu, lalu pecah. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Pastilah ada sebabnya. Sebagian dari kita akan menjawab bahwa kaca tersebut pecah karena dilempar batu. Dalam berpikir filsafat, kita harus dapat menjelaskan bahwa kaca tersebut pecah belum tentu karena dilempar batu. Ada banyak sebab yang dapat menjadikan kaca tersebut pecah. Bisa jadi, kaca pecah karena setelah dilempar batu, terjadi gempa, yang menyebabkan kaca tersebut pecah. Dari hal tersebut dapat saya simpulkan bahwa, ada banyak sebab untuk suatu akibat. Sehingga dengan belajar filsafat ini, kita harus dapat berpikir open ended. Tidak hanya saklek pada satu sebab saja, melainkan dapat juga menganalisis sebab lain yang menyebabkan suatu akibat, sehingga jika ada masalah, kita dapat menyelesaikannya dengan banyak cara.

Sekian, cuplikan kuliah Filsafat Ilmu pada pertemuan kedua ini. Sampai bertemu lain waktu.
 
 

Selasa, 15 September 2015

SELANGKAH LEBIH DEKAT DENGAN FILSAFAT ILMU: Refleksi Perkuliahan Pertama Filsafat Ilmu Bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Filsafat pendidikan, terutama filsafat pendidikan matematika bukanlah hal baru bagi saya. Alhamdulillah saat S1 dulu saya juga pernah mendapatkan materi tersebut dengan pengajarnya yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Bukan hal yang mudah untuk mempelajari filsafat, perlu pemikiran ekstra untuk dapat memahami hasil pemikiran dari para filsuf ini. Karena ketidakmudahan tersebut filsafat dapat menjadi sarana bagi orang yang mau mempelajarinya untuk selalu berikhtiar mencapai kebijaksanaan. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat. Untuk itu kajian ataupun pembahasan dalam kuliah filsafat ilmu tidaklah dapat terlepas dari pembicaraan tentang filsafat. 

Cakupan dari filsafat tentunya sangat luas, meliputi jawaban dari pertanyaan dimana, kapan, apa, mengapa, bagaimana, oleh siapa atau menurut siapa. Jika berbicara tentang “menurut siapa” atau “oleh siapa”, tentulah bahasan dari filsafat ini adalah menurut hasil pemikiran para filsuf. Sedangkan hasil pemikiran para filsuf bermacam-macam dan selalu berkembang setiap zaman. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa cakupan filsafat ini sangat luas. Hal tersebut juga merupakan masalah tersendiri dalam belajar berfilsafat. Karena keluasan cakupannya tersebut, sering kita kebingungan untuk mencari referensi ketika belajar berfilsafat. Prof. Marsigit menjelaskan bahwa tidak perlu bingung, karena segala hal dapat menjadi referensi filsafat, sehingga filsafat tidak perlu laboratorium filsafat karena apapun dapat menjadi laboratorium filsafat. Filsafat sendiri identik dengan membaca. Tiada membaca, tiada pula berfilsafat. Untuk itu, tidak mungkin dapat belajar filsafat tanpa membaca. Prof. Marsigit telah mempersiapkan banyak bahan bacaan untuk belajar berfilsafat yaitu tulisan-tulisan beliau di http.powermathematics.blogspot.com. 

Berikut ini akan saya uraikan beberapa hal tentang belajar filsafat menurut Prof. Marsigit: 
1. Tingkatan belajar filsafat meliputi hard, row, soft, dan spiritual. Spiritual merupakan tingkatan tertinggi. Selembut-lembutnya manusia tidak dapat mengalahkan kelembutan Tuhan. Ciptaan Tuhan sangat luar biasa. Dalam sepersekian detik saja banyak hal yang dapat terjadi. Fenomena alam berganti secara berkala bahkan dalam setiap sepersatu milyar detik tanpa kita sadari. Bagi orang yang masih peka terhadap linkungan, mereka dapat mengetahui waktu tanpa harus melihat jam. Hanya dengan mengamati alam mereka dapat memahami waktu. Sayangnya manusia sekarang penuh dengan manipulasi dan tidak banyak keluar, sehingga tidak peka terhadap fenomena alam. 
2. Objek filsafat meliputi ‘yang ada’ dan ‘yang mungkin ada’, seluruhnya. Termasuk yang dipikirkan. Adab berfilsafat meliputi dua hal yaitu landasilah dan payungilah melalui koridor spiritual. Semakin kita membaca tentang filsafat, perbanyaklah berdoa. Jika ada keraguan kembalikan pada spiritual. Ingatlah bahwa filsafat semata-mata hanya olah pikir manusia, jangan sampai manusia tidak memiliki landasan. Ibarat menerbangkan layang-layang, tanpa landasan yang kuat, layang-layang dapat terbang kemana-mana dan hilang. Jangan gunakan kehebatan pikiran atau logika untuk menganulir atau melemahkan keyakinan. Gunakan kehebatan pikiran untuk menyubur-nyuburkan keyakinan dan mengisi keyakinan. 
3. Alat berfilsafat yaitu bahasa analog. Bagi orang awam, bahasa analog ini berarti bahasa kiasan. Sebagai contoh, ketika bicara Tuhan, sebetulnya menyinggung masalah hati atau keyakinan. Chemistry bicara Tuhan yaitu hati dan keyakinan. Jika bicara tentang kehidupan, chemistry-nya yaitu urusan dunia. 
4. Metodologi filsafat yaitu metode hidup (hidup menghidup-hidupkan, seperti tak ada menjadi ada, rendah menjadi tinggi, sedikit menjadi banyak). Dalam hidup terdapat aktivitas, dinamika, interaksi, dan sebagainya. Seperti itulah yang diharapkan dapat terjadi dalam pembelajaran filsafat. Menerjamahkan dan diterjemahkan juga merupakan salah satu metode hidup. Ibarat pohon, pohon selalu mendapat sinar matahari untuk dapat tumbuh. Ketika pohon tidak mendapatkan sinar matahari, pohon tersebut akan bergerak-gerak untuk mendapatkan sinar. Seharusnya manusia juga dapat berlaku seperti itu. Selalu berikhtiar untuk belajar. Sehingga tercipta pembelajaran yang berkelanjutan. 

Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, belajar filsafat bukanlah hal yang mudah. Jika kita tidak banyak membaca dan berusaha untuk paham, maka belajar filsafat menjadi sangat sulit. Untuk itu kita harus selalu berikhtiar agar dapat memahami filsafat dengan baik. 

Sumber: kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A. tanggal 9 September 2015

Kamis, 26 Mei 2011

DEVELOPING MATH TEACHING

Today, we are in globalization era where everything has to be developed and appropriate to what exactly people need. Paradigm of teaching is one thing that has to be developed. In this occasion, we will use “traditional teaching” to name the old paradigm of teaching, while the new one will be named “progressive teaching” or “innovative teaching”. Before we compare both of them, let see some levels in teaching. There are four levels in teaching, they are:
1. Spiritual level that contain of
- Spiritual
- Future vision
- Goal/bad
- Ways of life
2. Normal level
- Law
- Decree
- Education system
- Paradigm of education
- Theories of education
3. Formal level
- Curriculum
- Syllabi
- Book
4. Material level
- Class
- Teaching context
- Book
- Building
We will not talk about definition of them, but we are going to compare mathematics teaching in traditional ways and mathematics teaching in progressive or innovative ways based on some levels above.
In traditional teaching, teaching can be described as transfer of knowledge from the teachers to their student. In this case, teacher control the student tightly. Students are assumed as empty vessels so teacher can fulfill them with a bunch of knowledge although the students cannot accept them completely. Students become passive because they do not have any chances to develop their selves or to give opinion about what they learn. Of course that situation is so awful. So, we have to change it. We can transform that paradigm into the new one, or we usually call it as progressive teaching. In progressive or innovative teaching, students are assumed as developing seed. Teachers do not just give them some theories and exercises, but students can construct their own knowledge. Teacher here is just to be a facilitator. For example students have some problems with certain material, so teacher can help them to solve that problem. Students cannot be passive anymore, they need to be active learners and build knowledge based on their paradigm and understanding. They have a bunch of chances to develop their selves.
What about the curriculum? Traditional teaching is popular in 1975 or 1980 so the curriculum is curriculum at those years. They were material oriented. The worse thing is mathematics teachers teach same mathematics, in a same time, with same facilities, same objective, the result is also the same, it is teacher’s thinking, but they teach different students. Is it rational? Absolutely not! So, it is better to move into progressive teaching, where Mathematics teachers give different material to every student, teaching and learning process do not always in a same time, or in the other words we can say that students can study every time, everywhere, in different places, with different facilities, different objectives, and also different result according to their own competencies. The curriculum that can be used is KTSP where school has authority to build its own curriculum by considering the condition of student in that certain school. But it is still depend on the teacher’s paradigm.
Let us move to the teaching method. In traditional teaching, teacher uses expository method. Teachers just explain the material, give the example of that material, and then they just give some problems related to the material, without considering these problems are contextual or not and the last they give students some tasks to do. For some students, those tasks are so annoying because they are forced to do that although actually they do not want to do those tasks. Teachers give score based on final exam and assessment just depends on score. This situation is different from progressive teaching method. As what Mr. Marsigit said that ‘there is no the best way to educate’, in progressive teaching, teacher teaches in various method and the method is contextual to student’s daily life. So students can develop in their own way. As what I said before that teacher is just a facilitator. Assessment does not just depend on score but it is classroom based assessment. Teacher score the progress of the student.
Every teaching and learning process absolutely needs book. But, the problem is in traditional teaching, both teacher and student are text book oriented although the book is not relevant with the situation. What they study is pure math. But, in progressive teaching, book is developed by the teacher so it can be relevant to student’s condition.
The last but not least, in traditional teaching, student study because study is an obligation for them. They do not study in their own willing. But, in progressive teaching, study is a need. Student study because they need knowledge to develop their life.




Reference: Mr. Marsigit Lacture

Kamis, 19 Mei 2011

MATHEMATICS EDUCATION IN GENERAL

Nowadays, only some students that concern in mathematics education. That’s why, we, mathematics department students, have to be happy and proud of ourselves. However, we cannot be careless because of what we can get today. We need to empower our ability and make certain that we are in the right track. Furthermore, with all competencies and facilities that we have, and also support from all beloved guys, it is impossible if we cannot achieve our goal. In the other words, we can say that we have to manage ourselves to be able to make use our competencies, facilities, and support to achieve our goal or vision. We have to keep struggling by not being blind and empty. We cannot be blind, it means that we have to know our mission. While we cannot be empty, it means that we have to fulfill our mission.
As a student of mathematics education department, I am supposed to be a teacher in the future. That is why, my achievement is being a successful teacher. To be a successful mathematics teacher is not easy. I have to see my strength and also my weakness. I need to understand both the inside and outside of me, just through that way I can recognize myself completely. I also have to make a transformation, from younger people to an adult people, especially in the way of thinking. We have to know that life can be defined as characteristic. The characteristic of adult people is they always do something based on their understanding or their self awareness, they cannot be influenced by anyone else. So, to be an adult people I have to transform my past paradigm into my new one. I have to be more independent and not always depend on teacher or lecture.
Besides that, to be a successful teacher, I have to understand that students are supposed to complete the teacher. Teacher is not always right. That’s why, we, teacher and students, need to complete each other. Teacher not only teaches in front of the class but can also use some kinds of education video to tell the students about mathematics. That’s why, I have to be able to master technology or IT.
There are some problems of mathematics education. One of them is difference in the way of thinking between younger students to older students. As a candidate of teacher, I have to recognize it. I need to differentiate the teaching method for younger student and older student. I have to understand when I have to teach about mathematics in physic form, scheme form, model form and formal form.
Another important thing is I have to recognize that there is a big difference between study math and teach math. As what I told before, that both teacher and student have to complete each other, it means that the right word is study math or learning math. Not only student who study, but teacher needs study math too. As a candidate of teacher, I need to make sure myself that we study is about improve our paradigm. So I have to study as long as I live.
The last is, to be a successful teacher, I have to prepare myself to be a professional teacher. I have to prepare everything I need to teach, especially lesson plane and student worksheet. Good preparation is one way to be success . . . ^^

Kamis, 14 April 2011

Indeep Thinking About Mathematics Education

Now I am studying at Yogyakarta State University and I take mathematics education program. Last Friday, my lecture, Mr. Marsigit told us about something important in studying mathematics education. He said that we are lucky because we are in mathematics education program. If we take mathematics education program, we are supposed to be mathematics teachers in the future. Of course, as a teacher, I will face some kids, called students. They will be younger than me and have less mathematics experience if it is compared to me. So I have to consider that their way to study mathematics is different to my way to study mathematics. Now, the question is what is the difference between university students and pupils in the way of studying mathematics?
Before we talk about that, we have to understand that younger student has different thought to older student, in this case university student. What is the difference? Younger students always think about real material that can be found easily in their daily life. But older students are able to think about something abstract that just can be found in their mind. Based on that fact, now we are able to answer “what is the difference between university students and pupils in the way of studying mathematics?”.
As we have talked before that older people can think abstractly, so we can say that mathematics for them is about ‘knowledge object’ that just can be found in their mind. University mathematics is something abstract, it does not need some example in the daily life, it is about some proof of theorem, postulate, etc. mathematics is something ideal. When we say about ‘line’, what is supposed in our mind is something that is perfectly thick, has unlimited length and really straight. We have to be able to differentiate, which one is ‘line’, ‘line picture’, and ‘line model’. But, it doesn’t happen in school mathematics. Since, for younger students mathematics is just model of think that can be found in their daily life. In school mathematics, we don’t have to talk about proof of theorem, postulate, etc. We just have to give the real problem and material or contextual thing that can be easily found in their life. For example, when we talk about cube, what they think must be the model of cube. So we need some model or visual aid to help us in teach mathematics to them.
Ebutt and Straker (1995) define school mathematics as followed:
1. Mathematics is a source of pattern and relationship.
So younger students in studying mathematics they will search some examples of problems, after that they will find the pattern of solution for those problems. And finally they can find the relationship between the problem and the right solution.
2. Mathematics is problem solving activity.
Mathematics is about problem. Teachers usually give some problems or exercise to their students and the students should answer it or find the solution of the problem.
3. Mathematics is investigation activity.
In studying mathematics, student have to make an analysis about all mathematics object.
4. Mathematics is a means of communication.
Studying mathematics is not just can understand the concept, but student have to be able to communicate it with other.
What is the characteristic of student learn mathematics?
1. Students active if they have good motivation and good apperception.
if students want to be success in learning mathematics, they have to have good preparation and also big motivation.
2. That student learn mathematics individually.
In learning mathematics, students cannot be replaced by another people for all reason. Studying mathematics is individual experience.
3. That student learn math with collaboration with others.
Although mathematics is an individual learning experience, but students have to be able to work together with another people, or in the other word, work in team to discuss and solve some mathematics problems.
4. That the student learn mathematics in context.
Student can learn mathematics easily when they can imagine and think about the use of it in their daily life.

Kamis, 24 Februari 2011

Good Morning Sunshine!!

it's friday already. hmm,,the next few hour is weekend. what's wrong with weekend?? i always love saturday and sunday. what about monday? i like it too in some cases. if i have a big power and spirit to start the next week, i love monday. but if i don't have spirit and willingness, i don't like monday. my problem is, nowadays i don't like monday. i always feel tired. i think my schedule in this semester is not as friendly as my schedule in the previous semester. that's not good of course..so that, i need a strategy, dooor!!noh God, give me strength, please..^^
so now,,let start this friday with a full spirit and smile :D
good morning sunshine!!